Posts

Pekat

Image
Saat malam tiba, kau butuh sesuatu untuk menerangi langkahmu. Dan melanjutkan perjalananmu. Karena dengan lekasnya gelap berpartisipasi. Ditambah sang dingin berkolaborasi. Sinar-sinar bermunculan di antara gelapnya hutan. Entah dari headlamp, senter, lilin, ataupun kompor yang sedang memasak. Malam di gunung memang gelap. Bayangkan saja rumahmu yang sedang mati listrik. Gelap sekali, kan? Namun ada satu momen yang aku suka di antara hitam sang malam. Momen dimana tak ada lagi sinar yang bermunculan. Headlamp dan senter mulai dimatikan. Lilin padam. Kompor telah dirapikan. Canda tawa kembali disimpan. Raga merebah menyusun kekuatan. Berpelukan dengan malam dan kawan. Momen dimana pupil membesar karena semakin sedikit cahaya yang masuk. Dan akhirnya tiba pada keadaan gelap yang amat pekat. Ya, hitam pekat . Menurut urutan warna, hitam pekat merupakan hitam yang paling hitam. Sangat hitam. Legam . Keadaan tak berwarna. Kau benar-benar tak bisa melihat apapun selain hitam...

Temu

Image
Dingin berlomba menyambut kedatangan. Kabut menari dengan sang hujan. Hijau berbaris memeluk kehampaan. Sore yang tak pernah bosan. Aku kembali. Dari sekian perjalanan panjang yang tak kupahami. Hari ini hari spesial. Bukan karena ada yang bertambah usia. Atau tempat yang menyita pesona. Tapi, kau ada di sana. Kemeja kurapikan berkali-kali. Bahkan sepatu ini baru kubeli tadi malam. Rinai hujan berjatuhan lembut. Tak melunturkan semangat puluhan orang yang sedari tadi berlalu lalang. Kuteliti satu per satu. Tidak ketemu. Kutundukkan kepala. Melanjutkan pekerjaan yang hampir selesai. “Hai!” suara itu berasal persis dari arah utaraku. Menggetarkan tembok kekaguman yang sudah berdiri sejak dulu. Sebuah senyum mengembang. Kulanjutkan pekerjaan. Lampu-lampu dihidupkan. Malam beranjak ingin berkenalan. Aku pergi ke sudut jalan. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kuteliti lagi. Dalam diam. Sosokmu yang sedang mengerjakan sesuatu. Tanpa suara. Hanya tanga...

Hutan Rimba

Tiara: Hey, Bro! Why you not coming? Arin: About to take meditation. Sorry. Tiara: Haha. Bokis. What’s wrong? Arin: Nothing. Tiara: Internship? Arin: Maybe, one of. Tiara: Anything else? Arin: Dunno. I just need to laugh loudly. It’s a bit rare last few weeks. Tiara: Yes, you do. Arin: But, I think I miss “my home” mostly. Hutan rimba. A place where I can talk to God deeply. An irreplaceable feeling. Tiara: Merinding. Arin: Woy, gue bukan dukun. Kenapa lo merinding. Tiara: The same feeling when I look at the starry night. Arin: Yep, star gazing. Tiara: Harus hutan banget? Arin: Gak juga sih. Pokoknya yang ijo ijo. Bikin rileks. Tiara: Pup sapi aja. Kan ijo juga. Arin: Haha. Lo aje. Tiara: Cuma duduk ngeliatin sunset aja bisa bikin nangis ya, Rin? Arin: Damn right. Saat itu lo sadar lo cuma seupil. Di antara jutaan nikmat yang udah dikasih. Tiara: Merinding. Arin: Dasar kampung, dikit dikit merinding. Berdasarkan chatting nyata. Dengan beber...

#4 Ujung Kulon

Image
4 Weeks 4 Provinces: Senja 15–16 Juni 2013 Banten Tepian berbaik hati mengundangku Mempersilahkan duduk tuk mengenang yang lalu Perjalanan separuh hari rela kutempuh Hanya untukmu Yang sudah bergulung-gulung mendengar ceritaku Hei, kau berlebihan Aku tak punya santapan Hanya ingin menyampaikan salam Dari tepian seberang Bagaimanalah ini Aku tidak boleh kembali Juga memanggilnya lagi Jadilah aku terdampar Bersama kenyataan yang menampar Bukan deburan yang aku takutkan Namun langit yang tak sedia bertahan Lalu, apa artinya kesabaran? Kumohon... Tuliskan lagi dalam pasir Walau seketika terhapus air Ajari aku dalam tenang Walau aku bisa berenang Kau sungguh baik sekali Mau menemani walau sebentar lagi pergi Lihatlah... Rembang petang mulai tercipta Empat puluh tujuh detik yang sempurna Menutup salamku dengan menawan Penuh pembelajaran Dan harapan Pulau Mangir, 15 Juni 2013 I present to you the most west poin...

#3 Bandung

Image
4 Weeks 4 Provinces: NGTC 5–6 Juni 2013 Jawa Barat Setelah dua weekend sebelumnya gue berkelana ke provinsi sebelah, kali ini gue mengunjungi ibukota provinsi gue berada, Bandung. Tanggal 6 yang merupakan tanggal merah tentu udah diantisipasi oleh gue dan segenap geng kampus. “Gak usah jauh-jauh, yang penting kita jalan.” Begitu kata salah satu temen gue yang udah frustasi ngerencanain perjalanan yang tak kunjung terealisasi. Selatan. Sejuk. Strawberry. What is it? Ciwidey! Sebelumnya, thanks banget buat Botti yang berhasil bujuk ortunya buat nganterin Depok – Cimahi PP dan rumah tantenya bersedia diinepin sembilan gadis-centil-gang-Senggol. Sebelas orang (plus bokap nyokap Botti) melaju membelah malam dengan sebuah mobil APV. Formasinya? 2-5-4. Alhamdulillah nyampe dan pulang lagi tak kurang apapun. Cuma dua bemper gue yang udah tepos ini diindikasikan makin tipis. Ini pengalaman pertama gue traveling bareng Nyoties. Rempongnya bikin ketawa. Subuh subuh kita udah siap tempu...

#2 Semarang

Image
4 Weeks 4 Provinces: Pesawat 1–2 Juni 2013 Jawa Tengah Entah kapan terakhir kali gue dan keluarga gak mudik ke Semarang kaya gini. Tuhan memang selalu punya cara. Weekend di awal Juni gue dan keluarga meluncur ke kampung tercinta buat menghadiri pernikahan sepupu yang tinggal di Jambu (ini nama daerah, bukan buah). Bahkan tante dan om gue juga ikut. Oke, kita berenam naik transportasi favorit keluarga gue kemanapun berpetualang. Kereta . Paginya gue dijemput sodara. Menuju kampung melewati jalan yang berbeda dari jalan yang biasanya. Beberapa menit meninggalkan stasiun dan memasuki jalan tol baru, hamparan pohon cemara besar dan tinggi mulai menyapa. Ditemani selimut kabut nan damai yang mengungkung hutan cemara. Welcome to Cemoro Sewu! Gue punya keponakan cowo. Biasa gue panggil Ibal atau Ibal Ibul. Umurnya tiga tahun. Mungkin karena gue lama gak berkunjung, Ibal lupa sama gue. Saat gue memasuki jalan depan rumah, Ibal terlihat lagi main di halaman. Saking kangennya gue lang...

Sawarna (Lagi)

Image
“Pokoknya harus mampir kesini lagi ya, Neng!” pesan seorang ibu yang sudah lanjut usia kepada gadis berkulit hitam eksotis. Semester ini gue belanja dua mata kuliah. Salah satunya Ekologi Pesisir dari jurusan Biologi. Walaupun dosennya sudah agak tua, beliau selau semangat bercerita di setiap pertemuan. Alhasil gue gak pernah keluar duluan sebelum kelas berakhir walaupun melebihi waktu yang seharusnya. Menjelang akhir perkuliahan, beliau memberikan tugas kelompok berupa turlap ke salah satu daerah pesisir untuk meneliti keanekaragaman yang ada di daerah tersebut. Wah gue excited banget! Teringat Desa Sawarna yang pernah gue kunjungin akhir tahun lalu. Sawarna, dengan segala pesonanya . Iseng, gue mengajukan daerah pesisir ini sebagai tempat penelitian. Ajaib saat mendengar ketua kelas mengumumkan turlap akan diadakan di... SAWARNA! Ibu dosen mengaku senang sekali akan terselenggaranya turlap karena ini merupakan turlap pertama kelas Ekopes yang akhirnya berhasil terwujud. ...