The Art of Friendship - Amrie

Pas kuliah punya banyak teman tapi setelah lulus makin berkurang? Banyak. Pas kuliah ga deket tapi setelah lulus malah akrab? Mungkin ada, tapi sepertinya langka. Setelah lulus kuliah, kita mulai sibuk cari kerja dan ga dipungkiri bahwa lingkar pertemanan kian mengecil. Biasanya hanya berhubungan dengan yang deket-deket aja. Itupun bisa dihitung jari.

Inilah yang terjadi pada saya dan salah satu senior di kampus. Dulu kami hanya sekedar “tahu” karena circle kami beririsan. Biasanya ketemu saat acara-acara fakultas. Dulu saya melihat dia sebagai sosok yang pendiam, misterius, dan pintar. Cocok buat dijadikan panutan. Kalo sekarang? :))) Just enjoy the story.

Pertemanan kami bisa dibilang cukup unik. Semua berawal dari chat sederhana 5 tahun lalu, “Amrie. Ini Gita. Abis lebaran ada agenda traveling?” Ya, waktu itu saya ambil cuti cukup panjang untuk libur lebaran tapi ga ada agenda khusus. Bosan juga di rumah, pikir saya. Lalu, saya iseng chat teman-teman, dan nama Amrie ada di urutan pertama ketika saya buka menu Kontak.

Amrie bilang mau berkelana ke Banyuwangi dan sekitarnya. Lalu, saya minta agenda perjalanannya, barangkali tanggal, tempat, dan (tentu) dananya cocok. And, yes, I’m in! Amrie pun ga keberatan saya ikut serta. Perjalanan ini jadi salah satu trip yang berkesan dalam hidup saya. Ada beberapa hal yang saya pelajari dari Amrie dan itu ngebuat saya bersyukur bisa kenal dengannya.

Momen 1: Ketawain aja

Waktu itu, kami motoran ke Ijen buat lihat api abadi. Berangkat dari Banyuwangi sekitar 11.30 malam. Jalan utama masih ada penerangan namun memasuki kawasan hutan mulai minim pencahayaan. Saat di tengah perjalanan, ban motor bocor. BAN. MOTOR. BOCOR. Di tengah hutan, tengah malam, ga ada rumah, ga ada manusia, apalagi tukang tambal ban. Kami bingung. Perjalanan masih jauh dan medannya menanjak. Kalo bukan Hulk, rasanya ga mungkin kami dorong sampai atas. Singkat cerita, kami (dan si motor) nebeng mobil pikap yang seinget saya ga searah dengan tujuan kami tapi mereka bersedia nganter sampai parkiran Ijen. ALHAMDULILLAH, MAKASIH ABANG PIKAP. Satu hal yang saya sadari sejak ban gembos sampai tiba di Ijen, Amrie cuma ketawa-ketawa aja. Ketimpa kesusahan pun cuma cengar-cengir sambil bilang, “Wkwk, kita gimana ini?”

Menunggu sunrise di puncakan Ijen

Kejadian serupa kami alami sekembalinya dari Ijen. Bukan, bukan ban bocor lagi, melainkan berburu spiritus. Waktu itu, kami hendak ke kota untuk beli bahan logistik sebagai bekal persiapan ke destinasi selanjutnya: Taman Nasional Baluran. Destinasi yang saya nanti nanti karena ini kali pertama. Salah satu barang yang kami cari adalah spiritus, bahan bakar kompor Trangia. Kami ke pasar terdekat dan baru sadar bahwa sebagian besar toko tutup. OH IYA INI LIBUR LEBARAN :) Kami ketawa-ketawa dulu menertawakan kebodohan lalu lanjut berjibaku menyisir kios-kios di pasar.

Selama trip ini, saya jadi lebih sering ketawa. Ngetawain apa aja. Senang, ketawa. Susah, ketawa lebih parah. Dalam hati saya mikir, Kok ada ya manusia kaya Amrie yang masih bisa ketawa di kala dapat kesulitan. But, actually, laughing is the cheapest remedy! Iya juga ya, udah susah ngapain nambah susah dengan kesedihan. Ketawain aja! (even though your problem isn’t solved afterward)

Amrie is a human with the most beautiful heart. And, now, when I face the hard times, I just remember his dimples then the world seems a little bit better.

Momen 2: Terima apa adanya

Saat ke Baluran, ada dua personil yang ikut bergabung, teman kantor Amrie. Suatu hari, kami sedang menyiapkan makan siang. Spaghetti Bolognese.

“Nih, tinggal marut keju aja.” ucap teman Amrie.

“Sini kalo marut keju urusan cewek, biar adil.” potong saya sangat sexist waktu itu.

“Wah, Mrie, coba ajarin dulu nih.” balas teman Amrie yang saya tidak mengerti maksudnya. Amrie hanya senyum-senyum. Sejak saat itu sampai sekarang pun Amrie ga coba menjelaskan atau mengungkit-ungkit.

Happy lunch!

Sekarang saya baru sadar, pernyataan saya waktu itu sangat sexist. Pengetahuan saya tentang kesetaraan gender pun masih dangkal, sedangkan Amrie adalah seorang aktivis yang sangat vokal di bidang ini. Saya bergumam, Kok Amrie masih mau temenan sama gue ya, padahal waktu itu gue sexist banget. Asli, kalo inget kejadian ini, saya malu, namun sekaligus bersyukur punya teman yang bisa nerima saya apa adanya dan ga menggurui sedikitpun.

Kadang kami suka diskusi tentang gender dan kawan-kawannya. Lebih seringnya sih saya yang konsul ke doi. Sambil sesekali ngetawain tragedi minum spiritus di Baluran.

Savana Bekol, Baluran


Other stories:

The Art of Friendship - Ryu

The Art of Friendship - Ale

Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum