Six Months: From theory to therapy
--English version available
below--
Moin! Ga terasa udah enam
bulan tinggal di Jerman. Buanyak banget yang udah terjadi, termasuk range
emosi yang belum pernah gua rasa. Tapi, dari semua itu, gua bersyukur bisa
melewati semester pertama ini dengan baik. Yeay! Gua mau berbagi tentang apa aja yang udah terjadi
enam bulan belakangan, yang sebagian besar tentang pendidikan/studi.
Disclaimer dulu, poin-poin tentang pendidikan di bawah
ini akan tidak apple-to-apple, karena S2 di LN dan S1 di DN tentu
berbeda secara sistem. Ditambah,
studi S1 dua belas tahun lalu kondisinya udah beda sama S1 sekarang. Jadi, di sini fokus gua adalah cerita tentang hal-hal
baru di luar zona akrab.
1. Baca +100
halaman tiap minggu
Di jurusan gua, tiap matkul biasanya ada PR
baca 1-2 jurnal per minggunya. Semester ini, gua ambil 4 matkul. Jadi, tiap
minggu wajib baca jurnal minimal 100 halaman. Awal-awal baca jurnal itu lamaaa
banget. Ditambah beberapa penulis pake kosakata akademik yang ga umum, dan
bikin gua menggerutu, Kenapa sih harus pake istilah ini sedangkan ada
padanan kata yang lebih gampang??? Bukankah pemerataan pengetahuan itu dimulai
dari penggunaan bahasa yang mudah dimengerti oleh rakyat jelata??? (note to myself to learn more, I know)
Jurnal ini nantinya
akan dibahas di kelas dan didiskusiin bareng. Jadi,
kalo ga baca jurnal ya agak ngang-ngong. Kalo jaman S1 dulu, gua jarang dikasih
PR baca jurnal, melainkan PR teknis yang jawab soal-soal. Kalo sekarang, PRnya ngajak kita berpikir lebih analitis,
kritis, dan sistematis.
2. Kelas
kecil, diskusi lebih intens
Di kelas yang gua
ambil, isinya sekitar 7-12 orang. Karena jumlah kecil, diskusi di kelas bisa
lebih intensif dan semua mahasiswa hampir kebagian ngomong/beropini. Diskusinya
juga kondusif, inklusif, dan efektif. Semua boleh berpendapat. Sekonyol apapun
itu. Ga ada yang benar atau salah. Yang ada adalah keberanian buat bersuara dan
kemauan berpikir kritis. Tentu
beda dengan S1 gua dulu yang rata-rata isinya 30 orang. Kalo kelas besar bisa
sampe 100 orang. Tipe komunikasinya juga masih kebanyakan satu arah yaitu dosen
jelasin di depan kelas.
Selain itu, vibe-nya
juga beda. Kelas di sini, walaupun institusi formal, suasananya rileks dan playful.
Kalo durasinya panjang, kaya 3 jam, biasanya suka ada ice breaking. Walaupun
suasananya rileks, mahasiswa tetep profesional dan jaga batasan sama dosen.
Kalo dulu, kerasa banget hirarkinya antara mahasiswa dan dosen (mungkin gua
doang ya karena gua tipe yang ga deket sama dosen).
3. S2 sebagai terapi
Ini poin yang personal banget buat gua, dan
masih nyambung sama poin sebelumnya. Yep, S2 itu separuh jalannya bagaikan
terapi buat gua. Yang gua maksud
terapi di sini adalah ngebiasain diri buat menyampaikan pendapat atau bertanya.
Tumbuh di lingkungan parenting VOC, dari kecil gua ga dibiasain buat beropini
karena ruangnya ga diciptakan. Jarang ditanya mau apa, lebih pilih mana dan
kenapa, atau gimana perasaannya. Terlebih lagi di budaya gua, budaya Jawa, yang
menjunjung tinggi nilai “manut (patuh) sama orang tua”. Jadinya jarang
memutuskan sesuatu berdasarkan kemauan sendiri.
Pas udah gede,
baru kerasa deh, sulit maju kalo masih punya kebiasaan ini. Pun, kalo ada kesempatan ngomong, gua kaya
keburu-buru gitu, ngomong biar cepet selesai aja, bukan bener-bener terlibat
sepenuhnya di percakapan. Nah,
pas S2, gua berpikir, ga bisa nih begini terus. Mau ga mau gua harus ngebiasain berpendapat atau bertanya. Untungnya, dan syukurnya, iklim di sini
mendukung. Dosen, temen kelas, dan lingkungannya bikin gua ngerasa aman dan
nyaman buat bersuara. Walau kadang ga lancar juga karena harus pake bahasa
Inggris.
4. Budaya dan
bahasa baru
Jerman ini negara
baru buat gua. Pengetahuan yang gua punya tentang Jerman sebatas tembok Berlin
dan Presiden ke-3 RI, alm. Pak Habibie, yang sekolah tinggi di sini dan punya
kontribusi besar buat pengembangan teknologi transportasi Jerman. Karena minim info ini, gua agak kesulitan pas mau
bikin research project di Jerman. Tema apa ya yang cocok, budayanya kaya gimana di sini, tantangan apa yang
sebenarnya mereka hadapi karena sehari-hari keliatannya semua berjalan lancar. Sedangkan di Indonesia, ada banyak topik yang
terlintas di benak gua, yang bisa disasar buat program penelitian.
Terkait bahasa,
kalo boleh ngulang, gua akan lancarin bahasa Jerman dulu sebelum berangkat
sekolah. Kenapa? Biar lebih lancar selama beraktivitas dan ngebuka lebih banyak
kesempatan. Ga cuma mit karte, bitte, doang. Misalnya, gua mau ikut
ekskul ini itu tapi bahasa pengantarnya rata-rata Jerman. Ada sih yang bahasa
Inggris, tapi terbatas banget.
5. Solusi semu
krisis iklim
Pas baca-baca jurnal
tentang lingkungan, krisis iklim, kapitalisme, sejarahnya, dan teori-teorinya,
jujur gua frustrasi. Gua frustrasi karena semua ini ternyata udah sistemik dan
struktural, termasuk kenapa alam bisa rusak parah kaya gini. Ga ada solusi buat
krisis iklim kecuali gerakan/perubahan yang bener-bener radikal dan menyeluruh.
Di satu sisi, waktu itu gua berangkat sekolah dengan semangat 45, semangat buat
belajar tentang lingkungan dengan harapan bisa ngasih sedikit kontribusi ke
arah yang lebih baik. Sekarang jadi hopeless deh HAHAHA. Ga deng. Buat
saat ini, mungkin petuah dari Kinan yang bisa bikin gua sedikit lebih tenang. Bisa baca di sini. But, again, let’s see :)
Perjalanan masih panjang.
6. Kearifan lokal,
kembali ke asal
Ada satu momen yang
bikin gua sadar. Waktu itu gua lagi cari
topik buat tugas makalah tentang hubungan manusia dan alam, sampe akhirnya
ketemu sama konsep Degrowth. Intinya, konsep ini ngajak kita buat ngurangin
produksi dan konsumsi, dan lebih fokus ke interaksi sosial atau aktivitas
bareng komunitas. Pas lagi nyari studi kasus, gua sadar kalo praktik Degrowth
ini ternyata bukan hal baru. Praktik ini udah dilakuin sama masyarakat adat dari
dulu, termasuk di Indonesia. Di situ gua langsung terlintas: 1) Yailah ini mah udah
dilakuin sama suku-suku adat di sini. 2) Mungkin solusi krisis iklim itu ga
melulu soal teknologi canggih, tapi belajar lagi kearifan lokal yang ada di
sekitar. Mereka adalah garda terdepan penjaga alam—dan seharusnya juga kita
semua.
7. Ramadhan di perantauan
Ini pertama kali gua
menjalani bulan Ramadhan full di luar negeri. Kali ini puasanya mirip
kaya di Indo, sekitar 13 jam. Hari-hari awal masih oke walaupun susah bangun
pas sahur, jadinya ke-skip terus, wkwk. Memasuki hari ketujuh, mulai
muncul perasaan kangen sama suasana Ramadhan di Indo. Mulai dari lagu Maher Zain
di emol-emol, ngabuburit, berburu takjil, abang jualan dadakan, buber, mudik, kue-kue
lebaran, dan segala pernak-perniknya. Huaaa pokoknya kangen banget! Kita lihat
tahun depan apakah perasaan ini berubah.
Ditulis saat hari cerah tanpa awan, langit biru, dan bunga-bunga mulai bermekaran. Selamat datang, musim semi!
Moin! It’s been six months living in Germany, and so much has happened! I experienced many things for the first time, including range of emotions I never felt before. But, overall, I feel grateful to survive my first semester well. Yeay! I wanted to share a bit about what’s been going on lately, mostly the education/study side. Disclaimer first: my points about education below won’t be an apple-to-apple comparison because doing a master’s study abroad and a bachelor's study in the home country are technically different. Plus, my undergrad was 12 years ago, which was probably different than current undergrad study. So, my focus here is just sharing stories I have experienced outside my comfort zone.
1. Reading +100
pages every week
In my program, every
module usually assigns 1-2 journals to read per week. This semester, I took 4
modules, so I must read at least 100 pages every week. At the beginning, it
took me so long to get through one. Plus, some authors loved using unusual terms
or vocab, which made me grumpy, Why use these “big words” when there’s a much
simpler way to say it? Isn’t the point of knowledge to be accessible and easily
understood by regular people? (note to myself to learn more, I know)
These journals are
then discussed in class. So, if I don’t read them, I will be lost. Back in my
undergrad days, we rarely had this kind of homework, mostly answering
question-type homework. Now, the homework really encourages us to think
more analytically, critically, and systematically.
2. Small classes,
intense discussions
In the classes I
chose, there were about 7-12 students. Given the small number, discussions got
pretty intense, and almost everyone had a chance to speak. The vibe was also
conducive, inclusive, and effective. Everyone is allowed to have an opinion or
ask something. No matter how silly it might sound. There’s no right or wrong;
it’s all about the courage to speak up and being willing to think critically.
This style was absolutely different from my undergrad, where classes averaged
30 students. Moreover, big lectures could have up to 100 students. Also, it was
mostly one-way communication where the lecturer talked in front of the class
and us just listened.
The vibe here is also
different. Even though it’s a formal institution, the atmosphere is relaxed and
playful. If a class is long, like 3 hours, we sometimes have an icebreaker. But
although it’s chill, students stay professional and maintain boundaries with
the professors. Back home, I could feel the “hierarchical” vibe between
students and lecturers (or maybe that was just me since I wasn’t a student who
got close with the lecturers).
3. Grad school as
therapy
This is a truly
personal point for me. To be honest, half of this Master’s journey is like
therapy. What I mean by therapy here is the process of getting used to
expressing my opinion or asking questions. Growing up in the strict (Asian
tiger) parenting style, I wasn’t encouraged to have an opinion because the room
wasn’t created. I was rarely asked what I wanted, what I preferred and why, and
how I felt. Moreover, my cultural roots as a Javanese put a high value on
“obeying parents”. Thus, I rarely decided something on my own.
Now that I’m older, I
realise how hard it is to move forward with that mindset. Even when I did have
a chance to speak, I’d rush through it just to get it done, rather than
actually engaging in the conversation. In grad school, I told myself: I can’t
keep doing this. I have to force myself to express opinions or ask some
questions, like it or not. Luckily, and gratefully, the atmosphere here was so
supportive. My lecturers, classmates, and the environment made me feel safe and
comfortable to use my voice. Although sometimes I still find difficulty because
it’s in English.
4. New culture and
language
Germany is a brand new
world for me. Before this, my knowledge of the country was limited to the
Berlin Wall and our 3rd President, the late Pak Habibie, who studied here and
contributed significantly to German transport tech. Because of this limitation,
I struggled a bit when determining a new research project here. I was
wondering, what theme fits, what kind of culture people have, and what
struggles they actually face because everything looks running smoothly.
Meanwhile, if I have to do it in my home country, I’d have many ideas for
research topics as there are still many areas I could address.
Regarding the
language, if I could rewind the journey, I would definitely be fluent in German
first before moving here. Why? To make daily life smoother and open up more
opportunities. For example, I wanted to join some sport activities in the uni,
but most of them used German. Some were in English but very limited.
5. An illusion for
a climate crisis solution
Reading journals about
the environment, climate crisis, capitalism, and all the histories and theories
behind them has been… honestly, frustrating. It’s frustrating to realise how
systemic and structural all of this is, including why the environment has been
so badly degraded. There was no real solution to the climate crisis unless a
radical movement/change at all levels. On one hand, before I came here, my
spirit was high, believing that I could at least contribute or do better for
this world. But now, I feel hopeless HAHAHA. Just kidding. Maybe, for now,
Kinan’s words are the only thing that helped me stay a bit calmer. Read it
here. But, again, let’s see :) My journey ahead is still long.
6. Local wisdom,
back to the root
There was one moment
that really hit me. I was researching some topics for my term paper assignment
on the human-nature relationship when I discovered the concept of Degrowth. In
short, Degrowth focuses on reducing production and consumption, and emphasises more
social interaction and communal life. While looking for case studies, I
realised this concept has been practiced by many indigenous groups and local
communities, including in Indonesia. I was thinking: 1) Hey, it’s not new. It’s
been implemented by indigenous groups for a hundred years. 2) Maybe, the
solution to the climate crisis isn’t always about technological advancement,
but rather relearning from local wisdom/knowledge right in front of us. They
are the frontline guardians of nature—and honestly, we all are.
7. Ramadhan far
from home
This is my first time
having a full month of Ramadhan abroad. Thankfully, the fasting duration is
similar to Indonesia, about 13 hours. The first few days were fine, though
waking up for sahur (pre-dawn meal) was a struggle, so I skipped it. Day 7,
“the Ramadhan atmosphere in Indonesia” started hitting hard. I missed the
Ramadhan songs played in the shopping centers, ngabuburit (spending time before
Iftar), takjil (snacks for Iftar) war, emergent food/drink tenants, buber
(having Iftar together with friends or families), mudik (visiting hometown),
Eid cookies, and all the details. I missed it all so much... let’s see if I feel
the same way next year.
Written on a
bright, cloudless day, with blue skies and flowers starting to bloom. Welcome,
Spring!

Comments
Post a Comment