Dengarkan Sungguh-sungguh

Pembicaraan mengalir begitu seru hingga tak terasa dua jam sudah kami berada di sudut kafe. Lari dan literasi, dua tema yang sama-sama kami minati. Isu seksi quarter life crisis juga tak luput dari diskusi. Sosok wanita di depan saya ini penuh energi. Baru setahun saya mengenalnya. Kami satu komunitas. Obrolan malam itu seakan tak ada habisnya. Kami sama-sama bersemangat. Terus menimpali satu sama lain.

Paginya, saya coba mengingat potongan obrolan semalam. Sebagian ingat, tapi ada juga yang tidak. Wait, wait, kemarin dia bilang S1-nya ambil apa ya? Hmmm... Kok gw ga inget... Kalo univ-nya? Duh, ga inget juga... Sepikun itu kah gw... Well, padahal ini hanya detail minor. Saya coba ingat lagi sekuat tenaga, tapi tetap lupa. Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Selesai ngobrol sama orang, beberapa kali saya lupa sama hal-hal kecil atau bagian minor dari cerita seperti nama tempat, nama orang, waktu kejadian, rencana mendatang, profil sesuatu.

Menilik ke belakang, saya termasuk orang yang teliti dan suka dengan detail. Tanpa perlu ditulis, saya bisa mengingat detail dengan baik. Namun, selepas kuliah, daya ingat seakan menurun perlahan. Saya berasumsi ada hubungannya dengan paparan informasi di masa kini yang begitu intens, cepat dan beragam yang membuat informasi itu sendiri sulit melekat di kepala.

Karena terulang beberapa kali, hal ini membuat saya kepikiran. Kok bisa ya? Saya orangnya detail banget tapi makin kesini makin sering lupa sama hal kecil. Atau, pernah juga, melontarkan ulang pertanyaan yang beberapa menit lalu ditanyakan. Mungkin kalian pernah ngalamin juga. Misal, pas awal ngobrol, nanya acaranya dimana, lalu ngobrol cukup panjang, lalu nanya lagi acaranya dimana, tanpa sadar, hahaha.

Stephen R. Covey bilang, "Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply." Ah, mungkin ini yang sedang saya alami. Saking semangatnya, saya selalu menimpali apa yang teman saya sampaikan di kafe itu tanpa "mendengarkan dengan sungguh-sungguh" atau bahasa Sundanya active listening. Saya antusias mendengarkan karena ingin memberikan respons sesudahnya, bukan menerima informasi. Saya tidak memberikan ruang yang cukup di otak untuk menyerap kata-kata yang keluar dari lawan bicara. Otak saya lompat pada kesimpulan atau sibuk memikirkan respons yang akan saya berikan—yang kebanyakan malah respons tentang pengalaman pribadi. Dengan kata lain, kita hanya menunggu giliran untuk berbicara tanpa memperhatikan sepenuhnya pesan yang sedang disampaikan.

"Active listening refers to a pattern of listening that keeps you engaged with your conversation partner in a positive way. It is the process of listening attentively while someone else speaks, paraphrasing and reflecting back what is said, and withholding judgment and advice. When you practice active listening, you make the other person feel heard and valued."*

Pelan-pelan saya coba untuk mendengarkan lawan bicara dengan seksama. Fokus pada tutur kata dan ekspresi lawan bicara, bukan sibuk sama pikiran sendiri, apalagi sama gawai. Usahakan tidak memotong sampai ia selesai bercerita. Dengan begitu, saya belajar menghargai orang lain dengan menahan diri untuk tidak menimpali seenak jidat. Ajaibnya, dengan memusatkan perhatian pada si pencerita, ingatan saya akan detail mulai membaik dan juga bisa menikmati cerita secara utuh.

Mari mendengar sungguh-sungguh.

The quieter you become, the more you are able to hear. - Rumi

* Cuncic, Arlin 2019, How to Practice Active Listening, accessed 22 July 2019, < https://www.verywellmind.com/what-is-active-listening-3024343>.

Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum