Posts

Showing posts from 2018

A Man in Island

Image
Once upon a time, my female friend said, “Gak melulu cowo yang harus bilang suka duluan, sekarang jamannya cewe boleh nyatain duluan.” She then shared her experience who became the first in saying love. This insight successfully encouraged me to go to nearest post office, grab a postcard then write what I want to say to a man in island. Alright. A man in island. I think this is the time to let him know about how I feel after all this time. But, wait, is this what I want to do? Really? If he knows about my feeling, then what? What if he doesn’t feel the same? What if he gets plain and stop talking to me? I’m overthinking. Unhappy thoughts are dancing in my head. When writing, my hand freezes several times. It is a windy afternoon when I step out of the post office. My heart beats fast. Hesitance hits me again. I want him to know about how I feel, for sure. I want him to know that I’m always here whenever he needs. But, I’m also a bit worried if he actually doesn’t feel the same

Tentang Doa

Image
Sebuah percakapan dengan teman pria. Gita: Tau ga kado paling romantis? Teman: Cincin. Gita: Doa. Saya selalu menganggap bahwa doa adalah kado paling romantis. Mengapa? Sebab di antara puluhan doa yang terpanjat, yang kebanyakan untuk diri sendiri, kau masih ingat orang lain. Kau sediakan ruang dan waktu untuknya tanpa ia tahu. Kau memilih untuk sedikit tidak egois dan berharap orang lain juga berbahagia. Insight ini datang kepada saya melalui seorang teman, sebut saja Raf. Dulu Raf dan saya sering bertukar cerita karena kami punya minat yang sama. Ada satu hal yang menarik di mata saya ketika berbincang dengannya. Raf selalu mengucapkan kata-kata baik dan berdoa; “Semoga trainingnya lancar ya, Git”, “Safe flight and see you in Jakarta”, “Semangat, Gita! Semoga ada kesempatan lain.” Awalnya saya cukup asing dengan gaya bertutur ini. Tiap saya cerita tentang kegiatan atau rencana mendatang, Raf selipkan kalimat doa. Kalimat sederhana yang berisi harapan agar ap

Kita Bahagia Meski Tak Kemana-mana

Image
Beberapa minggu lalu, saya sedang mendengarkan kembali lagu-lagu dari salah satu penyanyi favorit saya. Ada sepenggal lirik yang mencolek saya sejak awal mendengarnya. “Kita bahagia… Meski tak kemana-mana…” Begitu bunyinya. Hemm rasa-rasanya saya mau nge-tweet sambil mention langsung sang penyanyi untuk menanyakan makna dibalik kata-kata tersebut. Bagi saya, salah satu bentuk bahagia adalah ketika kaki mampu melangkah jauh ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Nah, ini ga kemana-mana kok bisa bahagia? --- Hari ini, saya dan teman dekat saya sejak kuliah (sebut saja Kinan) janjian buat makan malam di sebuah tempat makan yang sering kami kunjungi saat kuliah dulu. Lokasinya tidak terlalu strategis tapi tempat makan ini ga pernah sepi oleh mahasiswa yang memelihara naga di perut. Kami suka tempat ini karena ayam saus tiramnya sungguh lezat dan nasinya banyak! Ini faktor paling penting pada saat itu: nasinya banyak. Saya ulangi, nasinya banyak. Karena tempat makan i

Morning Talk: Quarter Life Crisis

Image
Quarter Life Crisis. This term has been familiar to me in recent years, but now, it becomes more popular to discuss, especially among people in my generation who turn 26 this year. You see your friends are getting married, having kids (more than one!), pursuing a higher degree, starting their own business, signing up for international races, and other fabulous kick-off in their life. This achievement somehow becomes a pressure as we might think that others are performing better or one step ahead. Neighbor's grass always looks greener, doesn't it? Recently, I observed some of my female friends and found that marriage is still being a trending topic to talk about. “Gua udah 26 nih. Temen-temen gua udah pada nikah.” was the most common reason I heard from them. I was very tempted to reply, “So what?” but I preferred listening to them at first place and trying to put myself in their shoes. When I dug deeper, they said that they are getting to worry because they haven’t found &q

Dear Universe

Image
If I have a chance to meet anybody in this world, I want to meet a person whose personality is similar as much as me. I want to see her honest rare smiles. I want to listen to every single story she is excited to talk about with calm face. I want to catch her abundance spirit whenever she does anything she likes and tell she is doing good. I will not remind any details on her latest plan because I know she is quite capable of, but I will not forget giving my best luck for her. I will not let her going to wonderful places alone because her true happiness comes when she could share her favorite stuffs to other. I want to be on her side during her hard times. Giving a deep hug and saying everything's gonna be alright. I want to hold her hand while she cannot hold tears about her past. I want to comfort her in the right time because I know exactly when the right time is. I know she will not tell anybody when the old memories suddenly come and put her in such a pain. I kno

Dua Manusia

Image
Dua manusia Yang pernah saling berbagi Takkan pernah benar-benar melupakan Mereka hanya mengenang Dalam bentuk yang berbeda Mereka tahu Cinta sejati kadang tak semelodi Dengan memiliki Mereka paham Semua kasih yang pernah diluangkan Suatu saat akan menemukan jalan Dan pada akhirnya Mereka sadar Jalur menuju bahagia Ialah dengan menerima Dan berdoa tuk bahagianya Rasuna Said, 13 Aug 2018

Apa kabar?

Image
Minggu, 29 Juli 2018 Lombok diguncang gempa sebesar 6.4 SR. Saya disana. Tepatnya di Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Saya dan dua kawan sedang terlelap dengan indah saat kasur kami bergoyang keras. Kami pun lari keluar. Tangan dan kaki saya gemetar. Lemas rasanya. Antara percaya dan tidak. Tidak lama, mobil pickup berlalu-lalang sambil membunyikan klakson keras-keras. Saya pikir, Ini mobil kenapa sih, orang-orang lagi pada tegang dan syok, malah nambahin polusi suara . Begitu saya geser pandangan ke bagian bak, ada satu dua warga yang berdarah-darah dan membutuhkan pertolongan segera. --- Selasa, 31 Juli 2018 Saya kembali ke Jakarta. Errrgh… Ternyata daku tidak bisa fokus kerja. Ragaku di depan komputer, namun pikiranku pada orang-orang disana yang kutahu sedang memerlukan banyak uluran tangan. Sungguh pilu rasanya tiap berita tentang Lombok muncul di depan mataku sedangkan aku tak bisa berbuat banyak dari jauh. --- Minggu, 5 Agustus 2018 Malam ini

Morning Talk: Gamophobia

Image
Semalam, saya mendapat amanah jadi panitia nikahan seorang sahabat. Dia setahun lebih muda. Dulu kami sering berpetualang bersama. Melihat dia bersanding di pelaminan bersama orang yang dia sayangi dan percaya bertahun-tahun menjadi keharuan tersendiri. Sahabatku sudah dewasa. Pikiranku terlempar pada suatu pagi di bulan Oktober tahun 2015. Saat itu, saya terbang ke Alor untuk liburan sekaligus mengunjungi seorang sahabat yang sedang bertugas disana, sebut saja Agalet. Uniknya, saya dan Agalet sering mengalami hal-hal serupa dalam waktu berdekatan. Seperti pada waktu itu, dia ditugaskan di Alor dan beberapa bulan kemudian saya dapat kerja di Atambua. Kami satu provinsi! Gosh. Pagi itu adalah hari terakhir saya di Alor. Rencananya, saya, Agalet, dan teman Agalet akan mengunjungi sebuah air terjun. Saya menghampiri Agalet yang lagi duduk-duduk di bangku kayu halaman rumah. Entah apa pemicunya, kami jadi ngobrol panjang kali lebar kali tinggi. Tentang komitmen, pernikahan, dan ber

26

Image
It becomes a routine for me to have a self-reflection on birthday. Writing down few things I've learned throughout a year. Healing and traveling are still main parts of the topic. If I could sum up, this year would be: Time will heal, nature helps, real friends are there. The previous one is available here . Enjoy both :) 1.        Be grateful in every situation. 2.        Pray is the most romantic gift. 3.        Do not pursue a love that has rejected you (Najwa Shihab). 4.        Rejection and ignorance kill, compassion heals it. 5.        Sabar. Sabar. Sabar. 6.        You don't need someone's approval to look great. YOU ALREADY ARE. 7.        Open trip is not that bad, it's fun tho. 8.        Charity or voluntary events can nourish your soul. 9.        Call/text your parents more frequent. 10.    Do not take things personally (Dalai Lama). 11.    Detach. 12.    Use stainless/glass/bamboo straw. SAVE THE EARTH! 1

Keajaiban 3: Angsle

Image
Malam ini adalah malam terakhir saya dan #TeamPatahHati berlibur di Malang. Sebagai petualang kuliner, Rizal udah nyiapin daftar makanan yang mau dicoba dan malam ini dia bilang mau cari angsle. Angsle? Apa tuh? Ternyata sebuah dessert semacam sekoteng atau kolak. Jam 10, saya dan Rizal keluar hostel untuk memburu cemilan super manis ini. Mencari angsle H+8 lebaran ternyata cukup sulit. Keluar hostel kami belok kiri ke arah utara. Katanya di dekat klenteng (50 meter dari hostel) ada yang jual tapi nihil. Kami lanjut ke utara, menelusuri Jalan Gatot Subroto yang di malam hari banyak lapak sepatu di tepi jalan. Saya selalu suka menikmati kota kecil dengan berjalan kaki. Rasanya menarik melihat lekuk kota secara detil tanpa terburu-buru. Hemmm mana ini angslenyaaa. Mungkin karena masih libur lebaran, beberapa kangjualan belum aktif kembali. Hanya kangmartabak dan kangmieayam yang sudah ceria menyapa penggemarnya di Jalan Gatot Subroto. Kami terus ke utara sampai putus asa sendiri,

Keajaiban 2: Welirang

Image
Pukul 21.30 saya dan #TeamPatahHati bertolak menuju Cangar, salah satu jalur pendakian Arjuno-Welirang yang terletak di Batu tapi masih ke atas lagi. Batu ini mirip Puncak di Bogor. Daerah tinggi dengan banyak destinasi wisata favorit. Bedanya, jam segini jalan di Batu dan Cangar sudah amat sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Kabut tebal sudah menyelimuti jalan sejak kami memasuki Cangar. Piye iki. Jarak pandang terbatas. Gerimis mulai turun. Dingin makin menjadi. Single semua pulak, makin kering deh. Rencana awal kami adalah beristirahat di warung sekitar Cangar lalu start mendaki tengah malam. MANA ADA WARUNG WOY. Hahaha. Our stupidity. Singkat cerita, kami merapat ke sebuah warung di pinggir jalan, tidak jauh dari entry point. Satu-satunya warung yang masih buka namun sebentar lagi tutup. Kami mengobrol dengan warga disitu, salah satunya pak Jumari yang ternyata pemandu gunung dan dengan baik hati mempersilahkan kami bermalam di rumahnya. Jombski’s luck. Terima kasih b

Keajaiban 1: Ungaran

Image
Konon, doa kita akan dikabulkan dalam tiga bentuk: 1. Ya 2. Ya, tapi bukan sekarang 3. Diganti dengan yang lebih baik Untuk doa yang masuk dalam kelompok pertama, seringkali membuat saya bergidik sendiri. Bagaimana tidak, doa tersebut terwujud dalam hitungan jam, bahkan menit. Bulu kuduk saya kadang merinding atau terasa aliran hangat yang menjalari tubuh ketika dengan cepatnya doa-doa itu dijabah dengan cara yang sungguh sederhana. Pasca-lebaran, saya dan #TeamPatahHati berencana mendaki Gunung Arjuna dan Welirang di Jawa Timur. Sebagai bagian dari latihan fisik, saya dan salah satu anggota tim, Samuel, akan trail run ke Gunung Ungaran yang hanya berjarak dua puluh menit dari kampung saya. Selepas subuh kami berangkat ke Camp Mawar di Sidomukti sebagai titik awal pendakian. Selama perjalanan di angkot menuju Pasar Jimbaran, di sebelah kanan terlihat Gunung Ungaran yang nampak gelap oleh awan yang berkumpul rendah, sedangkan di sebelah kiri matahari mulai terbit dengan sinar