Berlari Sekali Lagi

"Aku ingin kau... kembali bisa... percaya pada diri dan mampumu..." - Tulus

Penggalan lirik ini selalu berhasil memompa motivasi saya untuk ikut race lagi. Absen selama dua tahun, saya putuskan untuk coba satu di tahun ini: Mantra Summits Challenge (MSC) kategori 55K. Menurut teman-teman pelari, MSC ini salah satu race di Indonesia dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Jalur sangat menantang, elevation gain sadis, cut-off time (COT) menyiksa. Lokasinya di Jawa Timur, melintasi duo gunung favorit yang berdampingan: Arjuno (3.339 mdpl) dan Welirang (3.156 mdpl).

MSC 55K
Elevation gain: 4.190 m
COT: 18 hours
Start: 13 July 2019, 23.00
Finish: 14 July 2019, 17.00

Sadelan, lembah antara Arjuno dan Welirang

Persiapan
Persiapan fisik yang saya lakukan sekitar tiga bulan, tapi yang efektif cuma dua bulan, kepotong bulan puasa di mana lari ya sesempetnya aja. Saya sadar fitness level tubuh saya saat ini sudah tidak seprima dua tahun lalu. Jadi, saya coba persiapkan sebaik mungkin, perlahan-lahan (thanks to my senior who always reminds me to do it slowly). When it comes to life goal, I will work harder to achieve it. Target saya waktu itu ga muluk-muluk: menjalani race dengan nyaman, minim cedera dan speedy recovery.

Sebulan terakhir, intensitas latihan saya tingkatkan. Tiap hari ada menu yang saya jalani. Sampai-sampai beberapa agenda meetup dengan teman saya tunda dulu karena ga ada waktu. Senin sampai Kamis ada latihan. Jumat malam udah cus ke gunung buat weekend trail. I fully committed to myself to prepare the best that I could. I should finish it, no matter what.

Lima minggu berturut-turut saya ke gunung dan ternyata bisa eneug juga, hahaha. Saya belajar banyak dari proses ini. Pertama, jadi lebih kenal sama tubuh sendiri. Apa makanan yang saya suka dan cocok dikonsumsi selama latihan, kapan tubuh saya butuh asupan, kapan tubuh mulai merasa tidak nyaman dan di bagian mana aja.

Kedua, belajar berdamai dengan situasi ga nyaman, misal kaki mulai ngilu-ngilu, naik gunung saat haid, atau trail run sepanjang malam tanpa tidur. Kondisi ga nyaman itu harus disadari, diterima dan ditelaah kira-kira penyesuaian apa yang bisa dilakukan. Fase persiapan adalah fase terpenting. Apa yang dituai nanti bergantung pada persiapan kita selama ini. Sudah maksimal kah?

Hari H
Bagi saya pribadi, race itu bukan hanya soal lari, tapi juga tentang hubungan yang terjalin dengan sesama pelari atau komunitas. Ada pengalaman dan keintiman yang tercipta, terutama ketika ketemu muka-muka lawas di race central. "Update kehidupan" tentu tak lewat dari obrolan walaupun singkat.

Salah satunya dengan Vira. Dua tahun lalu kami sering race bareng. Bahkan saat Mesastila Peak Challenge (MPC) 42K kami finish bersamaan. Di race kali ini, kami satu penginapan. Ah, sudah lama sekali ga ngobrol sama Vira. Selain update kehidupan, kegiatan kami sebelum race adalah makan, makan dan makan. Pas banget depan rumah kami ada warung. Es krim, coki-coki, coklat, bubur bayi, susu, kami ngemil sepuasnya. Betapa bahagianya!
 
Aklimatisasi dengan lari santai 5 km

Flag-off
Sebelum race, sempat deg-degan karena panitia menambah satu COT di Pondok Welirang secara tiba-tiba. "Bisa, Git. Lima jam itu ukuran pendaki bawa carrier." ujar seorang teman yang sukses mengurangi kegelisahan saya. Race dimulai jam 11 malam. Bunyi langkah kaki bercampur ketak-ketok trekking pole membelah malam. Peserta berlarian. Saya melangkah stabil, ga lari sama sekali. I know exactly my body, her needs and strength, and I trust her.

Dari start sampai Pondok Welirang, trek mulai menanjak tapi cukup landai, masih enak kalo mau dilariin. Catatan waktu saya 3.5 jam. Masih ada tabungan waktu 1.5 jam. Di Water Station (WS) Pondok Welirang, saya minum teh hangat lalu lanjut jalan sambil pasang sarung tangan karena dingin makin menggila. Apalagi menuju puncak Welirang di mana treknya terbuka di satu sisi. Angin kencang memeluk kami dan tak mau pergi.

Semua terasa nyaman dan baik-baik saja sampai tiba di punggungan menuju puncak Arjuno, titik tertinggi di race ini yang harus saya lalui. Saat itu sekitar jam 5 pagi. Waktu Indonesia Bagian Ngantuk-ngantuknya Kalau Lari Malam. NGANTUK. BANGET. PARAH. Pelupuk mata seperti digelayuti gajah. Tiap dua-tiga langkah saya berhenti. Saya kehabisan banyak waktu di sini. Di satu sudut belahan bumi, sang surya mulai terbit, semburatnya jingga membias cakrawala, cantik sekali. But, I didn't have any energy to take a photo, saking ngantuknya. Naga di perut pun mulai bangun. Saya ambil roti daging favorit saya yang sudah saya siapkan spesial untuk sarapan. Dan... rotinya... basi!

Selepas Arjuno, trek menurun panjang. Downhill sekitar 5 km melewati Mahapena. Salah satu pemandangan terbaik selain sunrise di Arjuno. Punggungan hijau bersalur diikuti hamparan ilalang tinggi tanpa ujung. Bagai di negeri dongeng.

Ketika downhill cukup kencang, saya tersandung akar. Saya tersungkur cukup keras sampai pergelangan kaki kanan bunyi "Krek!" Duh, Gusti. Saya ga mau DNF (Do Not Finish). Tapi pikiran ini udah kemana-mana. Saya lurusin kaki, dibantu teman-teman pelari dari Bekasi yang lagi bareng saat itu. Oke, I think I'll be fine. Saya lanjut lari. Waktu itu kakinya belum bengkak.

Sampai lah di WS paling meriah, WS Wonorejo. Nasi + sayur sop terasa sangat nikmat saat itu. Btw, ini pengalaman pertama saya pakai drop bag. Saya ganti pakaian bersih (termasuk pakaian dalam) dan kaos kaki. Rasanya fresh banget! Semangat baru. Dari WS ini masih tersisa 25 km lagi. Hahaha. Baru separuh jalan ternyata.

Matahari mulai tinggi. Check point selanjutnya adalah Puthuk Lesung, tempat wisata untuk camping atau sekadar light trekking. Ga terlalu tinggi sih, tapi ga sampe sampe. Sumpah jalur ini ngeselin banget. Kaki mulai nyut-nyutan. Pinggang mau copot. Mental pun diuji. Setelah itu, dilanjut dengan trek sempit dengan akar melintang di mana-mana sampai WS terakhir, WS Mbah Kamad. Dari sini sisa 5 km menuju garis finish. Saya sempat nyasar karena marking-nya kurang jelas. Treknya jalur makadam (batu-batu kecil seperti buat refleksi kaki) lalu aspal naik turun, dan satu kilometer sebelum finish masih dikasih nanjak. Mantap memang.

And here I am...
17 hours 34 minutes 36 seconds
7th on gender rank (only 10 women finished the 55k category)
The hardest race I've ever had
But, like a piece of lyric at the beginning of this post,
It is you who trust yourself
Trust the process, enjoy every second of it
'Cause if you lose joy, you lose strength

Thanks for all your support!

With fellow runners from Depok

The best way to celebrate? Ice cream!


Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum