Sawarna (Lagi)

“Pokoknya harus mampir kesini lagi ya, Neng!” pesan seorang ibu yang sudah lanjut usia kepada gadis berkulit hitam eksotis.

Semester ini gue belanja dua mata kuliah. Salah satunya Ekologi Pesisir dari jurusan Biologi. Walaupun dosennya sudah agak tua, beliau selau semangat bercerita di setiap pertemuan. Alhasil gue gak pernah keluar duluan sebelum kelas berakhir walaupun melebihi waktu yang seharusnya.

Menjelang akhir perkuliahan, beliau memberikan tugas kelompok berupa turlap ke salah satu daerah pesisir untuk meneliti keanekaragaman yang ada di daerah tersebut. Wah gue excited banget! Teringat Desa Sawarna yang pernah gue kunjungin akhir tahun lalu. Sawarna, dengan segala pesonanya. Iseng, gue mengajukan daerah pesisir ini sebagai tempat penelitian.

Ajaib saat mendengar ketua kelas mengumumkan turlap akan diadakan di... SAWARNA! Ibu dosen mengaku senang sekali akan terselenggaranya turlap karena ini merupakan turlap pertama kelas Ekopes yang akhirnya berhasil terwujud. Tetiba gue ikut merasa senang dan bunga-bunga bertebaran di sekeliling gue.

So, here I am. Menempuh 12 jam perjalanan karena bus mogok dan harus berhenti selama 1 jam karena bus udah kepanasan setelah melewati medan yang meliuk-liuk plus lobang sana sini. Akhirnya jam 8 malam gue tiba di tempat tujuan. Gue menghampiri sebuah warung yang terbuat dari kayu dan bambu. Ada sebersit rindu yang menelusup kalbu.

Seorang wanita tua mengamati tiap langkah gue yang semakin mendekat. Ketika gue mengucapkan salam, wanita tua itu langsung meluk gue. Seperti seorang ibu yang menyambut kepulangan anaknya sehabis merantau. Ibu selalu menanti-nanti kapan gue main lagi ke Sawarna. Gue gak nyangka akan disambut sehangat ini. Mata gue berkaca-kaca, tapi langsung gue seka.
 “Ya ampun neng kemana aja? Ibu tungguin dari tadi. Kirain teh gak jadi.”
“Macet, Bu. Trus, tadi mobilnya mogok.”
Selanjutnya kami mengobrol panjang kali lebar. Ibu kangen sama gue dan teman-teman yang waktu itu pernah berkunjung. Ibu maksa gue makan. Ibu juga maksa gue menginap di tempatnya. Ya Tuhan, I’ve never felt this before.

Tahun lalu gue gagal dapetin sunrise karena telat bangun *hari gini kesiangan?*. Kali ini gue harus berhasil. Gue bangun jam 4 dan menuju spot bersama tujuh teman lainnya dan seorang guide. Perjalanan menanjak dan licin (semalem abis hujan). Gue pesimis bisa mencapai lokasi sebelum sunrise karena perjalanannya lumayan makan waktu. Langit perlahan menyapu gelap. Gue makin pesimis. Langit mulai menunjukkan terangnya. Gue pesimis mis mis. Sepertinya akan ada post dengan judul “Sawarna (lagi dan lagi)”. Dan, yak, Tuhan belum mengizinkan. Sang surya tak menyapa di tempat paling sempurna untuk menatapnya di Desa Sawarna. Hiks.

Briefing turlap dimulai jam 7 dan sekarang jam 6.45. Mustahil dalam waktu lima belas menit gue udah nongol di homestay, kecuali pake pintu Doraemon. Cobaan lain datang. Jalur pulang yang berbeda dengan jalur berangkat gak bisa dilewati karena air laut masih pasang. Gue dan rombongan terpaksa naik turun bukit yang makan waktu lebih lama. Pikiran gue sibuk menyusun rangkaian permintaan maaf in case ibu dosen marah atas keterlambatan gue. Terlebih, gue otak dibalik terlambatnya delapan anggota turlap karena niat-melihat-sunrise.

Rombongan udah pada siap, bahkan udah ada yang sempet main ke pantai dulu. Dengan lunglai gue berjalan ke dalam homestay buat ngambil perlengkapan dan berpapasan dengan ibu dosen. DEG! Mamam lo, Git. Dan yang keluar dari mulut gue adalah “Ibu, maaf banget saya telat. Tadi ngejar sunrise di Legon Pari tapi gak dapet karena mendung.” Alasan ter-gak-nyambung-abad-ini. Meluncur keluar begitu saja. “Oh, iya, gak apa-apa, Nak. Ayo cepat makan dan siap-siap.” Fiuuuh she wasn’t angry at all *peluk ibu dosen*.

Berikut beberapa hasil penelitian kecil kelas Ekopes 2013 di Sawarna.

Pandanus tectorius (pandan laut)
Tanaman yang berdaun hijau abadi (evergreen) ini bertugas menjaga pantai dari erosi dan abrasi.




Thalassia hemprichii (seagrass)
Padang lamun berfungsi sebagai produsen detritus dan zat hara serta habitat beberapa biota laut.




Rhodophyta (ganggang merah)
Walaupun berwarna hijau, ganggang ini termasuk ke dalam divisi Rhodophyta. Beberapa ganggang merah dimanfaatkan sebagai bahan pembuat agar-agar.



Phaeophyta (ganggang coklat)
Jenis Sargassum ini memiliki gelembung udara berbentuk bulat pada tangkainya yang disebut bladder.




Bivalvia (kerang-kerangan)
Bivalvia arinya dua cangkang. Salah satu fungsinya yaitu sebagai penghasil mutiara.




Cypraea (cangkang siput)
Merupakan rumah bagi siput laut. Cangkangnya yang mengkilap dengan berbagai motif dan warna membuat Cypraea sering dijadikan souvenir.



Crustacea (kepiting)
Kepiting merupakan salah satu anggota Crustaceae yang manfaatnya pasti udah pada tau. Kuliner!




Crustaceae (umang-umang)
Mainan jaman SD.






Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum