Commuter Line

Semenjak harga tiket Commuter Line turun, gue lumayan sering pakai transportasi ini untuk balik ke rumah. Malam ini gue gak sendiri karena Niki maksa ikut. Katanya sudah bosan dengan Bekasi. Sebagai pemilik yang baik, gue rela gendong doi sampai kosan. Daku takkan mengabaikanmu begitu saja... carrier-ku.

Perjalanan dari Bekasi menuju Depok memakan waktu sekitar satu jam, seringnya lebih. Sebuah rangkaian CL sudah nangkring dengan ganteng saat gue memasuki Stasiun Bekasi. Gue mempercepat langkah. Tanpa ba-bi-bu gue langsung duduk di gerbong khusus wanita yang paling dekat dengan pintu masuk. Duduk paling pinggir (bukan tempat duduk prioritas) bersama Niki tersayang.

Satu per satu penumpang mulai mengisi gerbong-gerbong kereta. Seorang wanita berjilbab dengan tas outdoor ukuran daypack memasuki gerbong lalu bertanya kepada satpam yang berdiri gak jauh dari gue, “Mas, kereta ke Jogja berhenti di Stasiun Bekasi gak?” Wajahnya putih dan manis. Mas satpam tampak kebingungan. Sepertinya doi kurang paham sehingga jawabannya melebar kemana-mana. Mbak cantik masih berusaha menggali informasi. Mas satpam menjawab namun tidak menjawab pertanyaannya. Gak tega, langsung gue potong, “Kalo berangkat gak berhenti di Bekasi, Mbak. Naiknya dari Senen semua. Tapi kalo pulangnya berhenti di Bekasi.” Mbak cantik ini langsung nengok, tersenyum tulus, dan mengucapkan terima kasih. Mungkin doi mikir, nih tuyul sotoy banget tapi kayanya bener.

Mbak cantik duduk di sebelah gue. Orang yang suka hiking atau bergiat di alam bebas biasanya terlihat dari penampilannya, termasuk mbak yang satu ini. Insting, gue ajak ngobrol aja. Kereta tidak terlalu penuh saat pintu tertutup dan roda mulai bergerak. Ternyata mbak cantik ini mau liburan di Jogja bersama teman-temannya dan blablabla kami mengobrol lumayan panjang. Kereta berhenti di Stasiun Jatinegara. Mbak cantik turun untuk berganti CL arah Pasar Senen. Dadah mbak cantik. Have a wonderful weekend!

Kursi mbak cantik segera diisi oleh seorang wanita. Berjilbab juga. Cantik juga. Duh, semoga gue ketularan gitu. Amin. “Ini ke Kota, kan?” Mbak cantik 2 tiba-tiba bertanya. Gue ngangguk. Kemudian mbak cantik 2 mulai bercerita, curhat lebih tepatnya, tentang kereta yang sering terlambat sehingga tadi pagi doi terlambat ngantor dan blablabla. Gue khidmat dengerin sambil mengangguk sesekali. Setelah uneg-unegnya keluar, doi melirik benda cukup besar yang nangkring depan gue. Niki. Mungkin doi heran ngeliat seorang cewek yang bawa bawa tas segede kulkas.

“Suka naik gunung ya?” Gue mengiyakan. “Dulu saya punya temen. Suka naik gunung juga. Sampe gak kuliah karena udah keasikan di alam. Cewek padahal. Tomboy banget deh. Kalo ke kampus pake jeans dan kaos mulu. Trus, waktu itu ada cowok yang naksir dia. Ya ampun! Langsung berubah 180 derajat! Sekarang udah mulai masuk kuliah lagi dan kalo ke kampus pake rok!” Mbak cantik 2 bercerita dengan semangat.
Gue ngakak. “Hahaha. Iya, Mbak. Biasanya kalo kaya gitu kaya ada penyemangat. Punya motivasi lagi gitu. Tapi, bagus mbak selama itu positif.”
Mbak cantik 2 mengangguk, “Iya, ya. Saya aja sampai heran dan gak nyangka dia bisa berubah.” Gak lama mbak cantik 2 turun. Dadah mbak cantik 2.

Setibanya di Stasiun Manggarai, gue langsung ngacir ke peron 6. Pas banget ada CL yang lagi nangkring. Gak penuh tapi juga gak sepi. Thanks, God! Sambil gendong Niki gue setengah lari ke arah peron 6. Karena dibutuhkan sedikit tenaga ekstra saat menaikkan badan (plus Niki) ke dalam gerbong, gue berhenti sepersekian detik, narik napas, nyiapin tenaga, dan mulai menaikkan badan namun pintu kereta mulai menutup. Gue coba tahan pake kedua tangan gue macem jagoan yang ngebuka pintu lift buat nyelametin penumpang yang terjebak. HALO. Siapa elu, Git. Ya jelas pintunya nutup dengan mudahnya -___- kecuali hercules atau samson yang nahan. Hiks.

Tak lama kereta jurusan Bogor tersedia di jalur 5. Gue langsung stand by. Kereta cukup kosong. Yes, dapet tempat duduk! Mungkin ini hikmahnya gue gak diperkenankan naik CL yang tadi. Gerbong cukup penuh tapi gak sesak. Kereta pun mulai berjalan.

Seorang bapak tua lewat sambil celingak celinguk mencari barangkali masih ada sedikit space tersisa sebelum akhirnya menggapai pegangan tangan dan berdiri tepat di seberang gue. Rambutnya memutih karena usia. Yang ada di benak gue saat itu cuma satu: bokap gue. Gue berdiri mempersilahkan bapak tua untuk menempati bangku gue. Beliau pun duduk walau awalnya menolak.

Seorang pria berkaus hitam dan celana panjang loreng abri memasuki gerbong setelah CL meninggalkan Stasiun Tebet. Menggeser perlahan ke tengah sambil menenteng benda seperti Niki. Doi berhenti tepat di belakang gue berdiri. Hemm kayanya mau mendaki nih. Pengeeen gue ajak ngobrol tapi takut dikira sok akrab. Alhasil gue cuma curi-curi pandang. Sepuluh menit berlalu dan... “Mas, mas, mau naik ya?” gue memberanikan diri. Mas ganteng ini menaikkan alisnya sebelum menjawab. Lalu tersenyum. Dan mengalirlah pembicaraan kami bagai air di Curug Sawer.

Entah menit keberapa mas ganteng nyolek lengan gue. “Permen?” Doi menawari gue Nano-nano dengan sorot yang teduh. Gue ragu bentar. Menimbang-nimbang apakah permen itu ada peletnya atau engga. Karena respon gue lambat doi nawarin lagi dengan gayanya yang santai tapi asik parah, “Ckck. Sikat.” Gue ambil satu, melemparkan senyum paling manis, dan bilang thanks. HAHAHA FTV BANGET.

Pengalaman gue naik CL hari ini cukup seru. Thanks Niki. Ini berkatmu juga. Gue melakukan hal yang selama ini jarang gue lakukan: start talking first to a stranger. Selama kita ramah dan sopan, orang lain mau membuka diri kok. Yang penting niatnya baik and stay positive ;)

Yuk keluar! Lakukan perjalanan!
Walaupun hanya naik kereta se-Jabodetabek. Pengalaman seru bisa terjadi dimana dan kapan saja :D


Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum