Manusia Kuat

"Ta, gua kira lo kuat."
Ucap seorang teman sore itu setelah mendengar kondisi saya yang masih rapuh pascaputus sebulan lalu. A major heartbreak I've ever had. Dengan jujur, saya ceritakan luka yang masih menganga, apa yang saya rasa. Lalu, meluncur lah satu kalimat racun itu: Gua. Kira. Lo. Kuat.

Butuh jeda panjang untuk mencernanya. Terlebih komentar ini keluar dari seseorang yang saya anggap dekat. Satu yang pasti, mendengarnya di waktu yang salah hanya membuat kondisi batin saya lebih buruk. Gua kira lo kuat.. Gua pikir lo baik-baik aja... Ah, lo pasti kuat ngadepin gini doang...

HELLAW apa sih ekspektasimu? Gita yang selalu kuat dan tegar? Gita yang kuat fisik maka otomatis kuat mental juga? Apa karena badan saya nampak berotot, mampu lari puluhan kilometer, lalu saya dianggap kuat menghadapi segala cobaan hidup? Persetan.

Kejadian ini jadi pelajaran berharga bagi saya. Mana yang hanya melihat di permukaan, mana yang betul-betul memahami perasaan. Mana yang tanya basa-basi, mana yang memang peduli. Saya juga belajar bahwa tampilan luar bukan lah segalanya. Orang yang sering melucu atau tertawa paling keras bisa jadi orang yang punya duka mendalam atau sedang butuh bantuan. Orang yang selalu nunjukkin kebahagiaan di Instastory bukan berarti ga pernah sedih di hidupnya. Stop melihat manusia hanya dari tampilan luar.

Bagaimana dampaknya terhadap kondisi mental saya saat itu? Pertama, ekspektasi orang lain bikin batin terluka lagi. Semacam, ah anjir udah ngerasa kuat kok ya ada aja celetukan orang yang bikin nge-down. Rasanya seperti dihantam simbal besar yang mendorong saya mundur ke belakang. Progres menyembuhkan batin seakan merosot jadi nol lagi. Kedua, sejak saat itu, saya trauma ketemu sama orang-orang seperti ini. Saya memilih menjauh, demi kesehatan mental saya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, saya temui banyak kalimat serupa, atau istilahnya toxic positivity; kalimat yang niatnya menyemangati orang yang tertimpa kemalangan, namun bila diresapi lebih dalam ternyata malah bikin batin lebih depresi karena di-judge terlalu dini.
"Sabar ya."
"Ambil hikmahnya aja."
"Look at the bright side."
"Ah, lemah lo. Biasanya juga kuat."
"Mending baru pacaran setahun, gua udah lima tahun."
"Lo kurang bersyukur aja kali."
"Di luar sana masih banyak yang lebih parah dari lo."
"Stay positive."
"Positive vibes only."

Dude, really? Can't you show a little bit of empathy here?

Belum lama ini, publik dikejutkan oleh berita bunuh diri Sulli f(x), penyanyi Korea yang mengaku depresi karena tak kuat menghadapi komentar-komentar jahat tentang dirinya di internet. Gila, ya. Satu nyawa melayang hanya karena jari tangan. Kejadian tragis ini adalah tamparan sekaligus teguran bagi kita semua untuk lebih bijaksana baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Yang wajib dipahami oleh semua lapisan masyarakat adalah bahwa depresi TIDAK disebabkan oleh lemahnya iman, kurangnya rasa syukur, ketidakmampuan mengambil hikmah, kegagalan berpikir positif, mudah merasa baperan, dan stigma lain yang masih melekat kuat pada masyarakat Indonesia. Depresi juga bukan untuk dibandingkan perihal siapa yang paling malang. Kita tidak sedang berkompetisi untuk menarik simpati. C'mon, we have our own struggle already.

Ini hal sederhana yang sering saya terapkan ketika menghadapi teman yang sedang berduka. Dan perubahan kecil ini bisa kita mulai dari diri sendiri.
1. Dengarkan tanpa menghakimi.
First thing first, make yourself available for him/her. Kadang yang dibutuhkan lawan bicara hanyalah kehadiran kita. Be a good listener. Dengarkan ceritanya dengan seksama, biarkan ia mengekspresikan emosinya saat itu. Ga perlu kasih saran atau nasihat kecuali diminta.
2. Kenali emosi yang disampaikan.
Sejalan dengan point 1, penting untuk tahu sebenernya dia ini lagi merasa apa; sedih, marah, kesal, kecewa, bimbang, atau apa? Tanyakan bagaimana perasaannya agar di kepala kita ga cuma asumsi doang. Kalau ada yang curhat, gua suka tanya "How do you feel?" biar tahu apa yang sesungguhnya sedang ia rasa dan paham jalan pikirannya.
3. Stop membandingkan luka.
Depresi atau kemalangan bukan untuk dibanding-bandingkan siapa yang lebih parah sebab sikap ini hanya akan membuat lawan bicara merasa rendah. Dengerin aja kalo lagi cerita. It's about him/her, not you.

Dan yang tak kalah penting, tau kapasitas diri.

Everyone has their own struggles we know nothing about. Be nice.

Ditulis untuk memperingati World Mental Health Day yang jatuh pada 10 Oktober 2019.

Comments

  1. I love this! I've been there and it sucks. But, in the end we know who deserve our energy. Gw inget bgt kata2 lo ke gue saat gw lagi cerita ttg org yang berkali2 bikin gw down : "they don't deserve your energy, Ga." And it hits really hard, till now. Thankyou, Ta, for always leading me to the rational thinking. Thank you!

    ReplyDelete
    Replies
    1. You're welcome, Ga! Happy to have you till now. Let's move forward, key ;)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum