Cinta dan Memiliki

Waktu itu kau tiba saat aku lagi patah-patahnya. Hari-hari terasa hampa, tujuan hidup seakan tiada. Sulit bagiku membuka diri, bahkan untuk sekadar teman ngobrol di penghujung hari. Namun semua berubah setelah perjalanan itu. Perjalanan yang mempertemukan kau dan aku. Dari situ, kita mulai sering berbincang dan berbagi banyak hal. Wawasanmu luas seperti angkasa, buatku betah berlama-lama. Rasanya aku bisa cerita apa saja. Dari A sampai Z. Predikat yang sampai saat ini hanya milik sahabatku. Kau pun tahu itu

Begitulah, ada lelah yang pada tempatnya, sang nyaman ikut tanpa sengaja.

Kedekatan kita mengingatkanku pada satu pelajaran hidup, tentang cinta dan memiliki. Seorang tetua pernah berkata, cinta dan memiliki adalah dua hal yang berbeda. Ketika jatuh cinta, jangan terpatri untuk harus memiliki. Karena sejatinya, kita tetap bisa mencinta. Misalnya, cinta tanah air, apa kita harus memilikinya? Tidak kan? Jadi, tetua itu berpesan, wujudkan cinta itu pada tempatnya yang benar. Cintai sesama walau tidak bersama.

Terima kasih sudah jadi teman diskusi yang sefrekuensi. Hal yang tak pernah kusangka sekaligus buatku percaya. Kalau ternyata, di luar sana, ada lho orang yang jauh lebih nyambung dibanding kekasihku yang dulu. Buatku, itu hal yang luar biasa.

Terima kasih sudah memahami diri ini beserta seluruh sifatnya; Aku yang dominan, independen, dan kadang keras kepala. Dibutuhkan ruang pengertian yang besar. Lagi lagi kau sabar. Ada banyak hal kecil yang kau lakukan, dan di saat itu pula, ada banyak hal yang bikin aku jatuh hati.

Terima kasih sudah bersedia menemani bertualang. Ajakan yang hampir tak pernah kau tolak. Cerita-cerita ini akan kukenang kelak.

Terima kasih sudah membantu melihat dunia. Juga mengajakku berdiri, dan berlari lagi. Selambat apapun langkahku, kau akan menunggu.

Terima kasih sudah bikin jatuh cinta lagi.
Kini aku paham arti cinta tak harus memiliki.
Semoga kau sehat dan bahagia, dimanapun berada.


This letter is featured on I Think I Wanna Date You podcast. Thank you for the opportunity, Kak Idha.


Belitong 2018

Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum