Surat untuk Anjani

Anjani,

Rencanaku tahun lalu sesungguhnya bukan datangimu. Ada pantai utara yang ingin kukunjungi bersama seorang teman baik. Kata orang, pantainya biru dan elok. Koneksinya buruk tapi itulah yang kubutuhkan. Melewati dua enam tanpa distraksi dari luar. Hanya aku, teman baikku dan semesta. Duduk hening di tepian sambil memandang langit dan laut yang seakan menyatu, ditemani debur ombak yang mampu meredam gaduhnya hati. Ah, sempurna sekali.

Namun, takdir berkata lain, Anjani. Temanku batal. Aku tak punya rencana cadangan. Mendatangimu tanpa persiapan yang cukup rasanya kurang ajar. Tapi, itulah yang terjadi. Di tengah kebingungan harus kemana seorang diri, aku nekat saja sekalian. Tiket baru kupesan tiga hari sebelumnya. Aku datang, Anjani.

Malam itu rembulan bersinar terang. Dingin malu-malu menyapa tulang. Kutelusuri jalur bersama dua rekan baru. Entah bagaimana menjelaskannya. Bagai mimpi. Aku lebih banyak diam sebab masih tak percaya akhirnya aku berada di pelukmu, Anjani. Maaf bila tiba-tiba. Namun, izinkan aku menyaksikan kebesaranNya yang tersemat menawan di tiap lekukmu.

Tepat setahun yang lalu, aku sampai. Hampir menyerah di jalur pasir karena tak selesai jua. Kini aku paham mengapa orang-orang bilang kau sungguh indah. Kau lebih dari itu, Anjani. Kau adalah cinta yang menjalar lewat keheningan. Kau adalah pengingat betapa besar kasih seorang ayah untuk anak perempuannya. Terima kasih, Anjani. Kau adalah hadiah terindah.

Aku masih terlelap di Desa Sembalun ketika kau bergetar pagi itu. Aku dan rekanku bergegas keluar. Semua orang keluar. Lututku rasanya lemas. Mau lari tapi tidak bisa. Apa yang baru terjadi sungguh mengejutkan. Gempa bumi 6.4 SR. Tepat di hari ulang tahunku. Anjani... ada apa? Apa aku bermimpi? Tak lama, mobil boks lalu lalang membawa warga yang terluka. Sebagian rumah nampak hancur. Ratusan pendaki terjebak di atas.

Anjani, bila kuingat kembali peristiwa itu, aku percaya semua sudah diatur. Tak mampu kubayangkan bila kupergi tepat di hari jadi. Kemungkinan besar aku ikut terjebak di atas bersama ratusan pendaki lainnya. Entah apa yang buatku memajukan jadwal satu hari. Terima kasih telah menungguku, Anjani. Terima kasih.

Aku masih ingat ketika kembali ke Jawa, ragaku di depan layar namun jiwaku masih di sana. Memikirkan para korban yang masih butuh uluran tangan. Doa tak henti kulayangkan.

Anjani, selamat istirahat. Mungkin ini momentum yang baik untuk berjeda. Ada luka tak berdarah tiap kujumpa banyak sekali sampah di tubuhmu. Namun, tak tega juga pada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya padamu.

Semoga semua membaik.



Backsound: Can't Help Falling in Love (Travis Atreo's Version)

Comments

Popular posts from this blog

Sejuta Pesona Sawarna

Another Best Escape

Bubur Sumsum